Selasa, 02 Juli 2013

Kembali Mengasah Kemampuan Terpendam

Liburan selama seminggu dalam rangka menjelang ujian nana habiskan untuk mengunjungi mas Herry di Jakarta. Selama seminggu aku niatkan untuk belajar masak..hehehe
Mungkin lebih tepatnya, mengulang kembali bagaiman cara memasak yang telah dipraktekan bareng ibu dan mba waktu masih intens di rumah dulu, karena sejak kuliah dan ngekos sudah jarang banget masak sendiri (kecuali nasi), itu artinya udah lama buangeeett yak,sekarang aja udah semester 6..:p
Sebenernya keinginan untuk masak udah diniatkan dari sejak awal nikah, tapi karena belum ada peralatan yang mendukung jadi ditunda masak-masaknya..hanya kadang-kadang aja kalo mas herry pas main ke Semarang, aku sempatkan sesekali masak buat mas Herry, tapi di Semarang peralatan juga alakadarnya, jadi ga bisa maksimal belajarnya apalagi gas yang digunakan untuk masak milik penghuni satu kos, jadi ga enak kalo Nana keseringan masak..hehe
Keinginan Nana untuk belajar masak saat liburan kali ini sudah Nana sampaikan ke mas Herry beberapa hari sebelum libur datang..Jadi mas Herry udah persiapan untuk membeli tabung gas sebelum Nana datang, sedangkan kompornya mas Herry sudah membawanya dari rumah saat kepulangan di awal bulan kemarin..
Pada awalnya sebelum kami memulai masak-masak, kami ‘rembugan’ menu apa yang akan dimasak..tapi rembugan itu tidak membuahkan hasil, ujung-ujungnya nana yang menentukan karena kalo mamas ditanya tentang menu selalu ngeles..:D
Karena Nana bingung, jadi langsung capcus aja belanja, siapa tau disana akan dapat banyak ide..hihi
Hunting bahan-bahan untuk masak pun dimulai, kami berangkat ke pasar Tomang atau lebih dikenal dengan nama pasar Kopro..
setelah keliling-keliling, masih aja bingung mau masak apa karena posisinya saat itu belum punya “ulekan”.hihi..
Akhirnya Nana putuskan buat masak oseng-oseng aja, yang bumbunya gampang.. dan kali ini diputuskan untuk membeli kangkung..
Pas tanya harga kangkungnya per iket keciiiil, ternyata harganya mahal yaitu 2rb per iket..lebih mahal dari pada kalo kita beli di Giant..jadi sedikit syhookkk..hihi
Yasudah kita beli deh satu iket kangkung, trus beli cabe..yuuuppp Cuma dapet dua bahan itu, karena harga2nya menurut kami terlalu mahal untuk tempat sekelas Pasar.. Untung dikosan mas Herry masih ada bawang merah, bawang putih, dan ikan bandeng presto asli Semarang. Jadi bisa buat sekali makan deh sayur dan lauknya..
Saatnya meninggalkan pasar Kopro dan kembali ke kos buat masak kangkung dan bandeng..
Hari berikutnya..
Kami mencoba menjajaki pasar yang lain, kali ini ke pasar Slipi.. di pasar Slipi lebih tepat dibilang pasar dari pada di Tomang. Karena nuansanya pasar banget, dan harganya juga lebih dan lebih ekonomis. Ditambah lagi dengan penjualnya yang rata-rata orang jawa asli, jadi bisa komunikasi pake bahasa Jawa. Entah kenapa kalo beli apa-apa lebih suka sama orang jawa, mungkin karena satu suku kali(?)..haha
Kali ini di pasar Slipi kami belanja lebih beraneka macem, jadi Nana lupa apa aja yang udah dibeli..hihi
Pokoknya jadi bisa masak macem-macem, meskipun masih masakan-masakan yang sederhana siy..tapi alhamdulillah mas herry suka dan selalu mengapresiasi masakan Nana. Jadi tambah semangat deh buat masak terus..
Sayangnya kebersamaan kita sementara ini hanya seminggu saja. InsyaAlloh suatu saat nanti saat kita dapat bersama setiap harinya, nana bisa setiap hari membuatkan sarapan, makan siang maupun makan malam dan cemilan2 sehat buat mas Herry..
Semangat masak, semangat buat suami betah dirumah..:D

--Nana--

Senin, 24 Juni 2013

Musyawarah dalam Rumah Tangga (Copas)

iseng-iseng baca artikel di akhwat.web.id, eh nemu artikel ini..hehe

Dalam Islam, suami adalah pemimpin. Segala perintah atau keputusannya mesti ditaati selama tidak mengandung kemaksiatan. Namun demikian, Islam juga mengajarkan para suami untuk berembug atau bermusyawarah dengan sang istri dalam setiap perkara rumah tangganya.
Sudah selayaknya kehidupan rumah tangga menjadi wadah kerja sama antara seorang suami dan istrinya. Keduanya bantu membantu dan bahu membahu mengayuh bahteranya di gelombang samudra kehidupan agar sampai ke tepian yang diimpikan. Keduanya saling berbagi. Suka dirasakan berdua. Duka dibagi bersama. Tak salah bila seorang suami bertukar pikiran dengan istrinya menghadapi problema yang ada atau sekadar mengeluhkan beban masalah yang dipikulnya.
Kesulitan yang dihadapinya mungkin bisa terjawab dengan masukan dari sang istri. Apatah lagi bila istrinya seorang yang cerdas dan berpikir lurus, ataupun istrinya bisa memberikan kata-kata menghibur yang dapat menenangkan jiwanya. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ
“Dan perkara mereka dimusyawarahkan di antara mereka.” (Asy-Syura: 38)
Yaitu mereka memusyawarahkan permasalahan di antara mereka, tidak bersikap terburu-buru/tergesa-gesa, dan mereka tidak menuruti pendapat mereka sendiri. Adalah kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak musyawarah para sahabatnya dalam urusan-urusan beliau dan Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan hal ini kepada beliau dalam firman-Nya:
وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ
“Dan ajaklah mereka musyawarah dalam urusan-urusan yang ada.” (Fathul Qadir, 4/642)
Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai junjungan anak Adam, kekasih pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidaklah menyepelekan keberadaan seorang istri di sisinya. Bila memang diperlukan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajak musyawarah istrinya, menceritakan permasalahan yang beliau hadapi serta memerhatikan saran istrinya.

sumber : http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/munakahat-keluarga/musyawarah-dengan-istri/

=Nana=